MMC RUMAH SATU DUA
WWW.RUMAH12.COM
AUTO TAYANG DI 29 WEBSITE
Terima titip jual aset pribadi Dan titip jual aset developer gratis
087887232777
081235534599
————————
Selamat pagi kawan2 terkasih, semoga kita selalu sehat, dimudahkan, dilancarkan, dilapangkan, dan ditingkatkan menuju yg lebih baik…
Salam dari Malang
Marketing On Wednesday #27
230222; By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
Brand Image
Setelah bertahun-tahun punya mobil Toyota, mulai dari Corona tahun 1976, Avanza, hingga Rush, suatu ketika saya ingin tampil beda. Tertariklah saya dengan mobil Nissan Grand Livina. Ini gara-gara ada seorang teman yang menceritakan tentang Grand Livina miliknya yang katanya nyaman. Katanya suspensi-nya kayak sedan. Dia saat itu menunjukkan kursi jok tengah Grand Livina yang bisa dilipat rata, menyatu dengan jok belakang, sehingga bisa dijadikan matras untuk tidur anak-anaknya.
Saya tertarik. Apalagi waktu itu saya punya anak kelas 1 SD, yang selalu tertidur setiap kali diajak berpergian. Maka, datang lah saya ke dealer Nissan Grand Livina di Surabaya. Saya ditemui bagian marketing. Seorang perempuan. Kami pun ngobrol berbasa-basi. Saya waktu itu bertanya kepada dia soal harga Grand Livina yang pasti akan jatuh jika nanti dijual lagi. Pasti berbeda dengan mobil-mobil saya sebelumnya, Toyota, yang ketika dijual lagi harganya masih relatif bagus.
Tapi, jawaban si perempuan bagian marketing tadi, khas jawaban seorang marketer. Sebelum dia menjawab pertanyaan saya, dia balik bertanya kepada saya: “Maaf, bapak membeli mobil itu tujuannya untuk apa? Untuk dinikmati, atau untuk dijual lagi? Kalau beli mobil untuk dijual lagi, ya memang jangan beli Grand Livina, karena harga nya saat dijual lagi akan kalah dengan merek lain. Tapi kalau beli mobil untuk dinikmati, ya Grand Livina ini pilihannya,” jelasnya. Dia lantas menunjukkan kepada saya, seperti ingin membuktikan kepada saya bagian-bagian mana dari Grand Livina yang membuat nyaman untuk dikendarai.
Saya pun terpengaruh. Saya seperti terkena serangan balik dari si perempuan marketer itu. Awalnya saya serang dia dengan sisi kelemahan Grand Livina soal harga jual lagi pasca beli. Tapi, dia balik menyerang saya dengan pertanyaan menohok soal tujuan membeli mobil. Secara tidak langsung dia memberi pilihan kepada saya, apakah saya mau jadi makelar mobil atau penikmat mobil. Gara-gara serangan balik ini, saya akhirnya membeli Grand Livina.
Disadari atau tidak, dalam membeli mobil, sesungguhnya pertimbangannya setidaknya hanya dua itu. Pertimbangan bagaimana nanti harganya kalau dijual lagi, dan pertimbangan kenyamanan serta keamanan. Dan dua pertimbangan itu sesungguhnya bermainnya di wilayah “brand image”. Dengan kata lain, itu sangat tergantung dari bagaimana produk-produk merek mobil itu dalam menanamkan “brand image” kepada para konsumennya.
Bahwa hingga kini Toyota masih bertengger di peringkat pertama sebagai merek mobil yang paling banyak dibeli di Indonesia, itu karena “brand image” Toyota yang masih begitu kuatnya di pasar Indonesia.
Berdasarkan data dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), sepanjang 2021 Toyota masih menjadi merek mobil terlaris. Yakni penjualannya mencapai 296.740 unit. Jumlah ini setara dengan 33,44 persen dari total penjualan mobil nasional Januari – Desember 2021 yang mencapai 887.202 unit.
Posisi kedua ditempati Daihatsu dengan total penjualan sebanyak 164.908 unit. Kemudian Mitsubishi dengan total penjualan 144.123 unit. Dan peringkat keempat Suzuki dengan penjualan sebanyak 91.793 unit. Peringkat kelima Honda yang berhasil menjual mobilnya sebanyak 91.122 unit.
Dan, kelima merek mobil itu lah yang selama bertahun-tahun mendominasi “brand image” pasar otomotif di Indonesia. Di masyarakat sudah terbentuk “brand image” terhadap merek-merek mobil tersebut.
Misalnya, Toyota. “Brand image” Toyota adalah kendaraan penguasa pasar otomotif di Indonesia. Di benak publik otomotif Indonesia, mobil Toyota selalu memiliki daya tahan (durability) pemakaian yang panjang. Spare part mudah didapat dan jaringan pelayanan purna jual yang tersebar merata di seluruh Indonesia. Harga jual kembali mobil Toyota belum pernah jatuh.
Daihatsu bagi publik otomotif dianggap sebagai “adiknya” Toyota. Jika tak mampu beli mobil Toyota, ya beli saja “adiknya”: Daihatsu. Ini lah mengapa, produk Toyota dan Daihatsu beberapa dibikin identik alias kembar. Misalnya Avanza dan Xenia. Rush dan Terios. Agya dan Ayla. Lalu ada Calya dan Sigra. Jadi, antara Toyota dan Daihatsu itu sebenarnya sama, tapi dibikin seolah-olah berbeda. Ini lah dampak dari “permainan” dari “brand image”.
Untuk Honda, “brand image”-nya adalah mobil kelas atas dengan desain modis dan teknologi terbaru. Harga mobil Honda umumnya paling mahal dibanding merek lain untuk mobil yang sekelas. Ketika orang punya mobil Honda, ini menjadi prestise tersendiri.
Suzuki mempunyai “brand image” sebagai jagonya kendaraan compact dengan cc kecil dan ahli kendaraan niaga. Itu lah sebabnya mengapa dominasi Suzuki Carry masih tak tergoyahkan. Colt T 120 dan Zebra keluaran Mitsubishi dan Daihatsu tak pernah mampu melawan Suzuki di kelas ini.
Mitsubishi identik dengan mobil rally dengan mesin yang bandel, bertenaga besar, dan berkecepatan tinggi. Namun, spare part mobil ini sudah tertanam dalam benak publik otomotif Indonesia berharga mahal. Karena identik dengan mobil rally yang bandel dan berkecepatan tinggi, ketika Mitsubishi mengeluarkan Pajero yang namanya sudah melambung karena sering menjuarai Rally Paris-Dakkar, Pajero sukses besar di Indonesia. “Brand image” ini lah yang membuat para perally Indonesia umumnya menggunakan mobil Mitsubishi. Kepolisian RI banyak menggunakan Mitsubishi untuk kendaraan patroli.
Jadi, dalam pasar otomotif, sesungguhnya yang menjadi pertimbangan konsumen paling utama dalam membeli adalah “brand image” dari setiap merek mobil yang ada. Ketika sebuah merek sudah kuat “brand image”-nya di benak konsumen, maka selanjutnya produsen hanya me-maintenance-nya. Butuh kerja keras dan proses panjang untuk menanamkan “brand image” yang kuat. Dan butuh kerja keras pula jika ingin meruntuhkan “brand image” yang sudah terlanjur kuat. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
















Facebook Comments